Senin, 31 Mei 2010


Dua orang Imam, sama-sama ke Malaysia. Dengan caranya masing-masing keduanya kini mencapai sukses yang amat luar Biasa. Yang satu Imam Susanto, yang biasa aku panggil Pak Imam. Karena beliau selain seniorku jauh di lingkungan remaja masjid, juga seniorku di Pondok di mana kami sekolah. Sementara Imam yang satunya, adalah Imam Syafi'e, dulu akrab dipanggil dengan nama Saiman. Usianya tak terpaut jauh denganku, dan termasuk daftar teman main kecilku.

Kedua 'Imam' ini sama-sama sukses sekarang, tentunya menurut ukuran orang desaku (Bajang) sudah luar biasa, bahkan untuk disejajarkan di lingkungan kabupaten Ponorogo pun kesuksesan mereka ini tergolong amat mencolok. Sebut saja, berapa gaji resmi bulanan Bupati? Mungkin sekitar 5 - 10 juta per bulan. Maaf, dari banyak sumber yang kudapat, gaji kedua 'Imam' ini mencapai 3 kali lipat dari gaji tersebut (kalau yang dimaksud adalah 10 juta)!! Tentunya belum termasuk berbagai bentuk income sebagai kompensasi dari prestasi mereka. Dilansir sebuah sumber terpercaya, satu di antara mereka kini telah menyimpan penghasilan mencapai 30 milyar.

Kesuksesan mereka yang sama ini, ternyata dicetak oleh sejarah mereka berdua yang hampir sama pula. Kesamaan keduanya, dari sekedar pengamatanku, adalah dari sikap ulet, percaya diri, pantang menyerah dan usaha yang luar biasa. Berawal dari hengkang meninggalkan desa Bajang Mlarak di Ponorogo menuju ke negeri Jiran. Imam Syafii berangkat ke negeri itu bertujuan mengadu nasib seperti layaknya TKI lainnya, sementara Imam Susanto berangkat untuk melanjutkan kuliah di IIU (Universitas Islam Antarbangsa) Malaysia - hingga kini mencapai gelar Doktornya. Singkat kata, keduanya kini menduduki posisi penting dalam perusahaan bertaraf internasional.

Pak Imam Susanto, yang rumahnya di sebelah selatanku dan hanya dibatasi kebun dan tegalan itu, kini menjadi manager di perusahan computer Amerika “Dell Asia Pasific” yang area kerjanya meliputi Singapore, Malaysia, India, Thailand, Hong Kong, Selandia Baru dan Australia. Terasa baru kemaren beliau menjadi pengurus muhadhoroh di Masjid Caru yang kecil itu, kini sudah menjadi eksekutif muda kelas internasional. Sementara Imam Syafi’i, yang rumahnya diselingi dua-tiga rumah dari rumahku itu, kini menjadi menager kontraktor di perusahaan milik anggota Kerajaan di Malaysia yang area operasionalnya menjangkau berbagai benua di dunia. Sungguh luar biasa!!! Begitulah ‘wong-wong dusunku’ membicarakannya. “Terasa mimpi saja” kata mereka.

Melihat kesuksesan mereka berdua, yang notebene orang kampungku sendiri, terunjuk rasa syukur dari hati yang dalam. Allah menyukai orang mukmin pada umumnya, tetapi Allah lebih menyukai mukmin yang kuat daripada mukmin yang lemah. Kedua ‘Imam’ yang sama-sama pernah mengenyam pendidikan pesantren dan agama yang kental ini tentu (semoga) masuk dalam kategori ini, yaitu mukmin yang kuat, dalam hal ini kuat finansiil dan materiil. Keberadaan orang-orang seperti mereka sangatlah dibutuhkan untuk menopang perjuangan dakwah dan pembinaan umat. Alhamdulillah, di sekitarku saja banyak langgar, mushola, madrasah, sarana-sarana umum lain yang tidak aku tahu telah dan terus mendapat uluran tangan Imam Syafii.

Kesuksesan kedua ‘Imam’ ini bukanlah kebetulan bagi Allah SWT. Semua sudah diatur dan ditakdirkan. Kehadiran mereka bisa menjadi inspirator bagi banyak orang. Bahwa kerja keras, keuletan, semangat dan pantang menyerah ternyata bukan ‘omong kosong’ belaka. Tidak ada kesuksesan yang diraih kecuali dengan berpayah-payah. Dan itu telah mereka tunjukkan. Kesuksesan dalam hal apapun, menurut versi siapapun dan dalam versi apapun (sukses meraih harta, meraih ilmu, meraih kedudukan, meraih popularitas, dsb) memang harus diraih dengan perjuangan.

Mereka berdua adalah Imam, Imam Susanto (37) dan Imam Syafi’i (33). Aku juga tidak lupa kalau aku juga Imam, Imam Saiful Bahri (32). Manusiawi sekali kalau manusia ingin memiliki harta yang banyak, tidak terkecuali aku, tetapi bagiku tetap mensyukuri apa yang ada padaku saat ini adalah kesuksesan tersendiri, karena tiap orang telah ditetapkan bagiannya masing-masing oleh Allah. Kepada kedua ‘Imam’ yang diberi karunia lebih oleh Allah ini, aku berharap semoga benar-benar dapat mengemban amanat dalam karunia tersebut. Amin.

Keterangan gambar: Imam Syafii (berjas) dan Imam Susanto.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -